Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus, Berkah Atau Musibah

Memiliki anak adalah dambaan setiap orang yang sudah menikah. Salah satu tujuan pernikahan adalah meneruskan keturunan. Ada juga yang ingin memiliki anak agar dapat menjaga dan merawat ketika telah lanjut usia. Setiap orang tua berharap agar anak mereka tumbuh sehat dan cerdas.

Anak tak bisa memilih dari siapa mereka dilahirkan dan dalam keadaan seperti apa. Beberapa lahir dalam keadaan normal baik fisik maupun kesehatannya yang lain. Namun ada juga anak-anak yang terlahir dengan suatu kondisi tertentu, misalnya tidak memiliki kaki atau tangan, pendengaran atau penglihatan bermasalah, lingkar kepala lebih besar atau lebih kecil dari ukuran normal dan kondisi fisik yang terlihat sejak anak dilahirkan.

Ada juga anak, ketika mereka lahir semuanya nampak baik-baik saja dan terlihat normal namun dalam perkembangannya memiliki masalah seperti gangguan verbal, masalah kognitif atau kecerdasan dan juga gangguan perilaku seperti pada anak dengan sindrom autis, hiperaktif maupun disleksia. Anak-anak yang memiliki karakteristik khusus yang berbeda dengan anak seusianya pada umumnya inilah yang disebut anak berkebutuhan khusus (ABK).

Orang tua yang diberikan amanah merawat dan membesarkan anak-anak berkebutuhan khusus adakalanya merasa malu, marah, kecewa dan sedih. Berbagai perasaan negatif menghantui mereka.

“ Kenapa harus saya yang mempunyai anak tuna grahita”

“ Apa salah dan dosa saya harus punya anak autis”

“Bagaimana nasib anak saya yang cerebal palsy, apakah kelak dewasa dapat hidup normal”

“ Ini nggak adil, saya nggak mau punya anak cacat”

Pernyataan-pernyataan seperti ini kerap terlontar dari orang tua yang memiliki ABK. Mereka mendambakan anak yang lucu, sehat dan pintar namun ketika kenyataan tidak semanis harapan, mereka menganggap ini adalah sebuah musibah. Memiliki anak berkebutuhan khusus, benarkah sebuah musibah?

Dalam psikologi keluarga penerimaan yang positif terhadap ABK akan memberikan proses dan hasil yang lebih baik daripada terus-menerus menyangkal. Yang perlu diingat adalah ikatan batin antara anak dan orang tua, khususnya ibu sejak anak dalam kandungan. Jika ibu sudah gelisah dan marah tentu saja akan berpengaruh terhadap emosi anak. Yuk segera ubah pola pikir para orang tua yang memiliki ABK dan segera lakukan proses ini ;

. Bersyukur

Memiliki anak adalah anugerah dari Sang Pencipta dimana tidak semua orang dapat merasakannya. Jangan lupa dengan doa-doa yang dipanjatkan ketika menginginkan kehadiran buah hati. Ketika sudah diberi, maka tak pantas kita bersedih apalagi marah dengan Sang Maha Pemberi. Berterima kasih dan bersyukur adalah salah kunci penerimaan diri terhadap anak berkebutuhan khusus yang telah hadir di tengah-tengah rumah kita.

. Tumbuh dan Belajar Bersama Anak

Ketika memiliki ABK tentu saja ini adalah hal pertama kali yang dialami oleh para orang tua. Biasanya mereka kebingungan dengan keadaan ini. Bagaimana cara menyembuhkannya, ke dokter siapa atau psikologis mana untuk menegakkan diagnosa dan menerapinya. Apa yang harus dilakukan agar anak bisa mencapai tumbuh kembangnya dan mandiri.

Orang tua ABK dan anak dapat bersama-sama belajar tentang kondisi yang dialami ini. Tak jarang, orang tua menjadi murid dan anak menjadi guru yang memberikan banyak ilmu, salah satunya adalah kesabaran.

. Menjadi Sahabat Bagi Orang Tua ABK

Ketika kita memiliki ABK, tak jarang kita akan mencari informasi tentang kondisi ABK kita dan mendapatkan support grup. Saling menguatkan dan saling memberikan informasi. Ada suplemen yang bagus untuk perkembangan anak, ada tempat terapi yang murah dan terjangkau di sekitar kota atau hal-hal lainnya ketika salah satu orang tua merasa lelah, maka yang lainnya ikut memberikan semangat, ini merupakan sedikit contoh dari manfaat support grup.

Ketika orang tua ABK sudah lebih dahulu menjalani dan mengetahui keadaan, maka bisa menjadi narasumber yang baik bagi orang tua ABK yang lainnya. Perlu diingat bila salah satu amal yang tak putus adalah ketika memberikan ilmu yang bermanfaat.

Nah, ketika orang tua ABK sudah mengetahui bahwa banyak hal yang bisa kita capai maka tak perlu lagi merasa malu, marah dan sedih. Merubah keadaan diri sendiri adalah atas kemauan kita juga. Jangan anggap sebagai musibah ketika anak terlahir dengan kondisi istimewa. Terima dan jadikan berkah dalam hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *